Tanjungpinang Cyber City

Posted: Maret 24, 2009 in Teknologi Informasi

Sekedar Opini dan Saran dan Gagasan

Tanjungpinang Cyber City cukup kompleks dalam tataran implementasi karena membutuhkan Infstruktur Informasi Komunikasi dan Teknologi (telematika) yang memadai hal ini tentu bukanlah hal yang mudah, mengingat mesti disertai dengan SDM yang memiliki pengetahuan dan terlatih di bidang ICT, dan mampu melayani Masyarakat dengan Instrumen IT. Namun hal itu tentu bisa diatasi apabila ada komitmen kuat untuk menjadikan Tanjungpinang Cyber City dari stakeholder Pemerintah dan perwujudan kerjasama dengan Telkom selaku penyedia jasa Telekomunikasi dan Informasi.

Karena benefit yang akan didapat apabila Tanjungpinang Cyber City ini terwujud sangat besar   dan dapat menjadikan Tanjungpinang menjadi kota yang kompetitif dalam hal pelayanan publik dan Pariwisata serta kebudayaan, apalagi dengan menyandang status Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau. Dalam hal pariwisata para Wisatawan dapat dilayani dengan kemudahan akses Informasi mengenai Kota Tanjungpinang dan mereka mendapat kemudahan untuk mengakses Internet karena tersedia fasilitas hotspot dan hal tentu mempermudah promosi pariwisata dan budaya Tanjungpinang ke tataran global.
Penyediaan  Hotspot Gratis di  beberapa titik lokasi Potensial dengan bekerja sama dengan pihak Telkom selaku penyedia akses telekomunikasi dan Informasi :
Lokasi yang potensial untuk dipasang hotspot adalah :

  • Lapangan pamedan
  • Melayu Square
  • Ocean Corner
  • Mamak Den Square
  • Kantor-kantor pemerintah seperti Dinas Pariwisata, Dishubkominfo dan di Bintan Center
  • Tugu Proklamasi
  • RSUD
  • Bandara
  • Pelabuhan Internasional dan Domestik
  • Kampus-kampus
  • Hotel-hotel
  • Rumah Makan dan restoran

Sehingga secara tidak langsung memanfaatkan masyarakat untuk memanfaatkan layanan yang diberikan untuk memperkaya pengetahuan dan mencari  Informasi yang dibutuhkan, terutama memanfaatkannya dalam pelayanan publik seperti mendapatkan informasi dari website Pemko Tanjungpinang serta melakukan interaksi secara online dengan pemko Tanjungpinang melalaui Website dan Jaringan internet.
Namun supaya hal tersebut efektif, pengelolaan Website Pemerintah Kota Tanjungpinang  dan SKPD yang saling bersinergi dan up to date.  Seperti pengelolaan yang bersinergi antara dishubkominfo dan bagian humas setdako, sehingga berita kegiatan yang sampaikan bisa up to date, baik itu dalam ketepatan dan kecepatan isi berita  serta tampilan yang mesti juga diperhatikan.
Website Pemko Tanjungpinang sebagai instrument paling dasar dalam e-Government,  berfungsi sebagai media strategis karena melalaui website inilah Pemerintah Kota Tanjungpinang dapat mempromosikan Potensi daerah, dan segala Informasi yang dibutuhkan masyarakat serta menjadi media pelayanan publik seperti menerima laporan keluhan pelayanan publik, Pusat download produk hukum dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemko Tanjungpinang sehingga tercipta transparansi informasi publik.
Kemudian Pelelangan secara elektronik (E-Procurement)mesti dilaksanakan untuk meningkatakan efiensi dan ketepatan penyerapan anggaran pembangunan dan meminimalisir KKN. Pemko batam dan pemprov Kepri sudah memulai dan bahkan hampir 50 % proyek pemerintah Provinsi kepri dilelang menggunakan pelelangan secara elektronik. Penggunaan E-Proc ini diharapkan supaya Tanjungpinag tidak termasuk dalam daftar pelayanan publik terburuk.  Untuk memulai bisa difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Biro Pembangunan dan LPSE Kepri
Proses pelayanan perizinan satu atap semestinya dilakukan secara elektronis mengingat sragen telah memulainya  dan berhasil sehingga kepercayaan investor meningkat, apalagi dalam era FTZ sekarang ini.
Penggunaan system informasi manajemen database Kependudukan yang compatible dengan KTP siak juga mesti diterapkan, sehingga tercipta database yang akurat.
Sistem Kerja Perpustakaan Daerah Kota Tanjungpinang juga mesti memakai Sistem Informasi yang dipakai oleh Badan perpustakaan dan Arsip daerah kepri
Sistem kerja yang paperless juga mesti terpakan karena akan menimbulkan penghematan dan efiesiensi anggaran yang ketat , sebagai referensi bisa dilihat pada Pemerintah Kota Surabaya yang mengadopsi Enterprise Resource Planning (ERP) menjadi Government Resource Management System (GRMS) .

Kemudian kendala dan solusi  :

  • Belum adanya akses internet di kantor Pemko Tanjungpinang di senggarang, hal ini bisa diantisipasi dengan menggunsakan Telkom VSAT, artinya menggunakan akses internet satelit.
  • Kalau untuk dalam kota seperti Bintan Centre, Kantor Dishubkominfo bisa menggunakan Telkom Speedy
  • SDM Pemko yang masih gaptek, hal ini dapat diminimalisir dengan pelatihan dan diklat dan Bimtek di bidang ICT yang bisa difasilitasi oleh Depkominfo atau Pemeprintah Provinsi Kepulauan Riau dan kampus setempat seperti Sekolah Tinggi Teknologi Indonesia Tanjungpinang serta Komunitas Bintan Island Blogger Community yang rata2 pengguna Internet Aktif.
  • Pendanaan bisa melalui pembiayaan APBN, APBD Kota, dan APBD Provinsi

Apabila semua itu terwujud, maka Tanjungpinang menjadi Kota yang kompetitif dari segi ICT dan  Pelayanan Publik serta mampu bersaing di tataran global, apalagi kita berbatasan dengan Singapura dan Malaysia. Semoga

Komentar
  1. Liandi Saputra mengatakan:

    Asalam,muikum.Wrb
    Sangat pesat pengetahuan anda di bidang IT.
    mudaha-mudahan ilmu anda bermanfaat buat bangsa,agama,
    Amin.
    Saya telah menbaca blog anda semua.
    semua tentang kemajuan teknologi dan budaya,bagus ……..
    Tapi sebagai blogeer saya sarankan……
    Tolong perhatikan tulisan tentang kenyataan masyarakat tg.pinang yang masih di bawah garis kemiskinan.Terima kasih

  2. Maryo mengatakan:

    Wah keren neh…Tepi laut tu perlu banget di dibuat titik2 hotspot…kalo pulang ke Pinang pasti aku slalu nongkrong dsitu…aku juga anak Pinang, cuma skrg lg di Pekanbaru..dan tergabung dgn komunitas Blogger Bertuah. Salam kenal, Tukeran Link yuk….

  3. jffzone mengatakan:

    sebaiknya sekolah juga dipasang hotspot^^

    sekarang ini saya cuma bisa akses di hotspot di Hotel Furia^^

    hehe

  4. ade iskandar mengatakan:

    aslkm mas adi, sori nih saya udah register juga di bintan blogger community, cuma belum sempat2 mau kopdar, selalu bentrok dengan jadwal saya, pemikiran yang baik dan menarik, tapi menarik juga saran dari teman kita Liandri Saputra,

    mas adi pernah ke rumah sakit tanjungpinang?misalkan RSUD lah, yg milik pemko, liat aja pelayanannya, dokter2 pada datang jam 10 bahkan kadang kala sampe jam 11, harusnya sebagai mahasiswa yg agent of change dan agent of control hal ini bisa diangkat dulu, biar wako dan jajarannya peduli mas adi, soalnya anggaran utk IT itu lumayan besar lo, bahkan sangat fantastis apalagi kalo di handle oleh orang yg IT-IT an..he..he..(baru bisa dikit tapi udah selangit, ga tau konsep IT sesungguhnya) ….pemanfaatan IT buat kesejahteraan masyarakat ga sekedar bisa ngeblog, fb, fs atau bisa buat cms en semua masalah masyarakat selesai, juga ga sekedar dengan pemanfaat IT dengan paperless atau E-Procurement kaya semudah tulisan nya deh mas adi, hal-hal kaya gini, perlu kerja keras jujur dan serius, dari seluruh SDM terutam IT nya…

    masalah tanjungpinang juga ga sekedar di Hotspot, saya pikir blm masalah kalo kita ga terlalu IT asalkan masyarakat sudah sejahtera, kalo mau bandingin dengan Batam masih jauh kali kita ini yah, Batam walau listrik dan air sering ngadat, tapi ga separah pinang deh, fasilitas kesehatan dibatam banyak, dan relatif lebih baik, jadi dari pada kita terlalu ke IT atau ke kesenian lebih baik sejahterakan dulu nih, sodara2 kita, lagian mungkin mas adi dan kawan2 bisa buat survey ilmiah berapa tingkat kemiskinan dikota kita, jangan terlalu percaya dengan data dari BPS, nah setelah itu baru bisa deh mau kemana akan kita bawa tanjungpinang ini, IT tetap harus jalan namun make skala prioritas kali mas ya, bersihkan dulu SDM didalamnya, jangan ntar kalo pun ada proyek IT yang handle bukan sarjana IT, atau bahkan sarjana IT yang tapi yg suka memperkaya diri,,jadinya ga jalan proyeknya malah yg jalan ntar proyek rumahnya…he..he, trus kan masih banyak tuh PR pemko, Listrik,air dan lain-lain lah, so mas adi en para mahasiwa nya tetap semangat yah,,,kayanya anda2 emang pejuang utk mensejahterakan masyarakat tanjungpinang nih…
    en kalo liat jajaran pemko asik ber-facebook ria, ingetin mas,,,pak atau bu,,coba deh cek ke tetangganya atau masyarakatnya..kali aja ada yg lagi kelaparan atau kesakitan dirumah sakit, tapi ga ada yg nolong, so teknologi akan berguna apabila dipergunakan oleh orang yang tepat dan diwaktu yang tepat pula so No Offense….majulah tanjungpinang kota gurindam

    • adamsign lah mengatakan:

      untuk masalah rumah sakit kemarin ada pengalaman terbaru, sepupu kekasih beta (masih bayi) perlu darah, eh persediaan darah di PMI bisa2nya kosong.. katanya alat saringan darah cuma ada di Jakarta dan Tanjungpinang (taw bener-taw nggak) tapi kalo persediaan darah kosong di pinang nak macam mana lagi.. kondisi bayi dah parah, waktu itu malam-malam ke RSnya. selanjutnya di cari lah donor darah, cukup sulit karena golongan darah bayi juga sulit di dapat. selain itu proses penyaringan darahnya lama (kalo ga salah 8 jam). sudah tidak memungkinkan, karena ini bayi.. masih lemah kondisinya. akhirnya diputuskan untuk di bawa ke malaysia.. dan keputusan itu lagi2 juga menghasilkan harapan yang tipis untuk si bayi, tapi mau macam mana lagi. beberapa jam berlalu, akhirnya si bayipun meninggal.

      memang nyawa itu ada di tangan tuhan, tapi apa pelajaran yang bisa kita dapat disini? SERVICE-PELAYANAN kesehatan di tanjungpinang benar-benar parah, manusia (kita) benar-benar tidak dihargai. bagaimana kalau hal ini terjadi sama keluarga kita?

      please Tanjungpinang.. kalau mau maju jangan tanggung-tanggung.. liat tuh prancis yang sangat memanjakan warga negaranya.. jangan salah meneladani.
      tengkyu

      • Dipa mengatakan:

        itulah kalau Karyawan maupun dokter kurang mengerti dan memahami posisinya mereka sebagai Public & Civil Servant, dan jga itu tidak adanya rasa melayani dengan tulus..ini problem mentality sehingga Manajemen pelayanannya amburadul..padahal mereka RSUD secara organizational sudah berubah menajdi Badan Layanan Umum
        maka jelas saja orang2 kite lebih banyak ke Malaysia, because of ape ? Hospitality dan service excellence mampu mereka berikan..
        yang perlu disini adanya Political Will dari Manajemen tingkat atas..Manager RSUDnya sendiri…seharusnya ia melakukan re-code dari dirinya dulu dan kemudian secara Organisasi dan Manajemen…Change Or Die…
        karena mereka adalah Pemerintah, dalam ontologi Kybernologi (Ilmu Pemerintahan) “Pemerintah itu memiliki kewajiban untuk meningkatkan kaulitas manusia yang diperintah.” nah apabila pemerintah, baik RSUD itu memahami betul2 Ontologi ini…ya hal2 tersebut mungkin tidak akan terjadi…namun itulah Ilmu Kedokteran, apakah mereka juga mempelajari Manajemen Pelayanan ? dont know lah..

  5. Dipa mengatakan:

    menganggapi komentar saudara Liandri dan Mas Ade, memang kenyataannya seperti itu tapi, haruskah kita mengambil langkah yang lamban daripada leaping forward?
    Maksudnya begini, saya berpandangan bahwa semuanya Mutlak dimulai dengan Pemerintah Kota Tanjungpinang menerapkan ICT terlebih dahulu sebagai hal yang mesti saya angkat sebagai agent of Change, untuk memperbaiki semua kelemahan sebelumnya yang dipaparkan pada komentar diatas. Karena untuk memberikan pelayanan yang baik dan prima kepada masyarakat, perlu dibutuh Change Management melalui ICT di Internal Pemerintah. Dengan ICT, Dokter tak bisa seenaknya datang ke RSUD jika diterapkan sistem absen elektronik berbasis biometrik. Apalagi didukung oleh mekanisme sistem reward dan punishment. Memang anggaraan ICT besar, tapi apakah anggaran besar itu sebanding dengan Outcome yang akan didapat nantinya ? tentu tidak sebanding kan dengan anggaran yang dikeluarkan apabila hasilnya memuaskan. Sekarang yang mesti dirubah adalah mindset, menggangap Biaya IT itu sebagai anggaran yang mahal belaka, namun tujuan tidak tercapai…adalah mindset yang mesti dirubah,,,menjadi biaya IT yang besar itu mesti dianggap sebagai Investasi. dan Pemerintah daerah lainnya sudah menerapkan mindset itu..jadi ICT sekarang Mutlak dan sangat dibutuhkan jika ingin memberikan service excellence, yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bahakan sebenarnya tak semahal yang diperkirakan apabila menggunakan Opensource? Karena biaya yang mahal itu biasanya seputar lisensi dan diikat perjanjian selama setahun dari vendor, sednagkan Jembrana saja menggunakna Open Source. Tentu harus ada Political Will yang kuat dari Pemerintah, hanya saja..saya menilai Ibu Walikota itu sebenarnya mau menerapkan ICT di segala Bidang, hanya saja staff dan jajaran dibawahnya itu yang kurang mendukung. Bahwa mesti diingat, dengan menerapkan ICT berarti patologi Birokrasi bisa diberangus. Nah hal inilah yang mungkin menjadi ketakutan para bawahan, karena mereka bisa lepas dari Comfort zone/zona Nyaman…tidak mau belajar computer lagi, karena sudah merasa aman dengan keadaan sekarang dan takut uang sana -uang sininya berkurang.., maka itu begitu mereka menghandle anggaran ICT jadinya melambung, ..karena mereka merasa bahwa ICT akan mengurangi pendapatan dan Kenyamanan mereka karena tidak bisa mengukur-ulur waktu dan nongkrong di Kedai Kopi sana sini, karena diawasi terus oleh system semisal SMS Pengaduan seperti yang diterapkan pemprov Kepri ..dan tidak bisa ngeles sana sini karena sudah berhadapan dengan komputer. Dan juga factor Gapteknya itu….soal mesti ditangani orang yang mengerti Konsep IT..juga pun tak mesti sarjana IT, yang dibutuhkan adlaah bagaimana Pemko itu mempersiapkan SDM karyawannya itu agar mau melaukukan perubahan dan mau untuk Learning and Learning, “seperti kata Prof Rhenald Kasali “Re-Code” nah Pemko lah yang mesti melakukan Re-Code internal terlebih dahulu dengan cara diklat, dan bahkan Depkominfo dan BPPT bersedia kok untuk turun ke daerah untuk memberikan bimbingan bagaimana cara tata kelola ICT pemerintahan dengan baik..kuncinya itu Political Will…dan juga untuk SDM IT dan tata kelola bisa menggunakan konsep Public-Private–partnership dan Outsource..dan satu lagi adalah Political will untuk menerapkan Electronic Governance di tubuh Pemko Tanjungpinang sendiri dan satu lagi kuncinya Konsistensi.
    Seperti yang disebutkan diatas pemanfaatan IT kalau hanya “sekedar” Facebook, Ngeblog, dan Menerima Tanggapan dalam Guestbook CMS,tentu tak semua masalah selesai, ..ya jelaslah kalau hanya sekedar…tanpa memahami filosofinya bagaimana anggaran yang terbuang untuk bisa komunikasi, Transportasi dapat terpangkas dengan menggunakan Tools diatas..nah dana yang dipangkas itu kan bisa dialokasikan untuk pos Kesra.. kalau pemanfaatan ICT dengan paperless ? dan E-Procurement , perlu kerja keras yang serius..hal itu bukan perlu lagi sudah mutlak diperlukan.nah untuk hal ini Pemprov Kepri telah mengajak seluruh Kabupaten Kota se-Kepri, Batam, Tanjungpinang, Bintan, dan Karimun ..kalau kita pahami filosofinya adalah bagaimana e-procurement ini yang sebelumnya banyak hidden agreement dan main mata dalam lelang biasa bisa dipangkas dan diminimalisir, sehingga akuntabel dalam penyerapan dana APBD, sehingga nantinya bisa dialokasikan anggaran yang tepat guna untuk pos Kesejahteraan rakyat, dan Konsep pemanfaatan ICT paperless tentu memberikan efisiensi tinggi, nah hasil efiesiensi itu yang semestinya dialokasikan kepada anggaran untuk meningkatkan kesejahteraan Rakyat dan juga Pemko tentu harus meningkatan e-Literacy Masyarakat melalui edukasi sehingga masyarakat kota Tanjungpinang tidak buta teknologi dan tidak terjebak dalam jurang digital (digital Divide).
    Kalau soal Hotpsot dan ICT yang mesti bagaimana…justru saya tetap berfikiran bahwa ICT(e-government) itu mesti dimulai dahulu. Jangan kita Bandingankan secara fasilitas dengan Batam , itu karena batam secara pengembangan kan dikelola oleh otorita batam sejak tiga puluh tahun yang lalu, dan diperhatikan secara nasional. Dan saya merasa kita harus tetap memulai dari ICT dulu, karena kalau tidak, maka Tanjungpinang akan kalah kompetitif dengan kota Lainnya dan malah tertinggal sekali, masak ibukota Provinsi tapi fasilitas seadanya ? Percuma lah namanya Ibu Kota provinsi tapi ICT tidak maju bagaimana memberikan pelayanan yang prima untuk meningkatkan kesejahteraan..Dan jangan lupa ICT dalam pemerintahan itu sudah ada payung hukumnya, dalam inpres no 6 tahun 2001 dan Inpres no 3 tahun 2003 dan sekarang akan dipayungi oleh perpres, sehingga ICT itu mutlak di era Knowledge-Based Economies seperti sekarang ini , sedangkan kesenian itu lah brand dan Positioning Tanjungpinang dan merupakan Cultural idenitity yang membedakan Tanjungpinang dengan kota Lainnya dan hal ini yang terus membuat Tanjungpinang tetap menarik. Soal data BPS, ya memang kita ga boleh bergantung pada satu data kuantitatif saja…namun hal itu bukan masalah apabila kita mengedepankan aspek akuntabilitas dan transparansi dengan ICT, jadi selain ada data dari BPS, Pemko melalui Dinas Sosial juga harus mendata penduduk miskin lalau kemudian ditempatkan ke dalam database elektronik, nah tentu menggunakan ICT..nah criteria penduduk miskin di Tanjungpinang itu bagaimana dulu ?..kalau dikatakan sudah layak menerima BLT..saya tak yakin..karena handphone dan Motor aja Punya… .dan berdasarkan kriterianya Rumah nya beralaskan Tanah, …tapi coba kita lihat dulu dimana di Tanjungpinang ini yang rumahnya beralaskan tanah ? ntah ada ntah tidak ? secara Kualitatif.kalau kriteria penduduk miskin yang benar2 menurut saya adalah masyarakat pesisir dan masyarakat pedalaman di sekitar Tanjungpinang seperti mereka-mereka yang tinggal di pulau Dompak…seperti nelayan yang tinggal di ujung-ujung sungai jang itu..dan saya bilang dengan biaya hidup perhari tanjungpinang ini yang bisa dibilang tinggi untuk ukuran sumatera ini. Nah bagaimana untuk meningkatkan Kesejahteraan mereka? Tentu dengan mengubah mindset mereka untuk berusaha dengan memeberikan kesempatan mereka untuk menjadi Entrepreneur, selama ini mereka terkurung dalam mindset mereka bahwa mereka tidak bisa apa lagi Karena kemiskinan mereka..padahal kalau mereka memiliki mindset mereka bisa sejahtera, tentu mereka bisa sejahtera,..nah tentu tugas pemko juga untuk memberdayakan mereka. Kemiskinan itu hanya dapat dikurangi dengan Wirausaha, dengan memberikan pinjaman kepada mereka dengan menggunakan prinsip Mudharabah…dalam Ekonomi Syariah, dan Juga Zakat Infaq, waqaf dan sedekah..sebaiknya pemko juga menerapkan perda zakat sehingga penerimaan optimal untuk kemaslahatan umat dapat tercapai.. .tentu dengan dukungan ICT dalam Pengelolaan Keuangan Umat tersebut baik melalui BAZ, BMT, dan Lembaga Amil Zakat lainnya sehingga tata kelolanya berbasiskan prinsip Good Syariah Governance.
    Sekali lagi saya katakan, untuk menghandle Proyek ICT ga mesti sarjana IT, yang diperlulkan adalah SDM yang mau melakukan perubahan pada mindsetnya dan menempatkan dirinya sebagai Civil Servant serta personal yang mau belajar-dan terus belajar…banyak contohnya di daerah lain, apakah dia berlatar belakang IT atau bukan, seperti dijelaskan diatas..dan sekali lagi Political Will itu mutlak
    Kalau untuk Listrik dan Air, perlu dipahami terlebih dulu hal tersebut bukan domain pemko Tanjungpinang, dan Pemko Tpi tidak memiliki kewenangan. Kewenangan Listrik itu di tangan PLN pusat, dan tidak bisa dilimpahkan kepada daerah untuk mengelola sendiri , kecuali UU Kelistrikan itu direvisi. Dan Air PDAM, Sekarang menjadi Domain Pemprov Kepri, karena PDAM sudah diserahkan kepada Pemprov dan sekarang menjadi BUMD Pemprov Kepri.
    Nah Kalau soal jajaran Pemko asyik ber IT ria di Facebook saya rasa itu wajar-wajar saja, kita anggap itu sebagai suatu pertanda bahwa mereka sudah mengerti ICT dan mau membuka jaringan sehingga hungan antara Pemerintah (governance) dan yang diperintah (Society) berlangsung cepat dan efektif, kalau mau jumpa ke senggarang kan makan biaya juga.. Nah kalau soal tetangga di sekelilingnya sudah menjadi tanggung jawab mereka lah, tentu mereka bisa menempatkan diri mereka dalam kehiduapan bermasayarakat sebagaimana posisi mereka sebagai Civil Servant.
    “Tanjungpinang butuh sentuhan iCT untuk meningkatkan daya saingnya…dan hal ini tidak bisa ditunda lagi, jadi ICT dan Pemberdayaan Masyarakat bisa berjalan secara sinergi.”

    • adamsign lah mengatakan:

      langsung saja. pengembangan IT memang perlu di berdayakan. kemudahan-kemudahan fasilitas akan jauh lebih banyak didapat seiring perkembangan IT. pelayanan masyarakat akan lebih cepat dan lain sebagainya. tapi disamping itu mari kita mencoba lebih realistis lagi, banyak hal-hal yang tidak bisa kita lupakan. kesejahteraan masyarakat Tanjungpinang secara umum masih kurang. hanya sebagian kelompok masyarakat saja yang dapat bersenang riang menimakti kemajuan teknologi, sementara sebagian besar yang lain jangankan mengenal komputer dan membeli laptop, untuk makan dan beli baju hari raya aja susah, beli susu anak susah. hal itu banyak sekali terjadi. bisa kita lihat dari cerita hidup orang-orang di pinggiran pasar, orang-orang di kelong, orang-orang yang nambak udang malam-malam, penarik becak, pemulung dan banyak lagi yang lain. disisi lain juga dapat kita lihat kondisi Tanjungpinang yang sangat tidak mendukung perkembangan teknologi dan malah menghancurkan teknologi (terutama teknologi yang ada di rumah tangga). kondisi tersebut adalah padamnya listrik. keluhan ini telah cukup lama dirasakan oleh masyarakat Tanjungpinang. kapan masalah ini akan diselesaikan? masih tanda tanya. berita simpang siur terus terdengar (tanjungpinang gossip city) tetapi realisasi dari tahun ke tahun tetap tidak kelihatan.

      jadi kesimpulannya menurut aku masih banyak hal lain yang perlu diperhatikan agar kemajuan teknologi informasi ini dapat berjalan dengan seimbang, selaras dan serasi dengan hal-hal yang lainnya.

      • Dipa mengatakan:

        ….untuk problem listrik yang kita butuhkan adalah political willl dari PLN sebagai Public Servant, apakah mereka mau memberikan kewenangannya untuk daerah supaya listrik bisa dikelola bersama-sama baik melalaui BUMD atau PLN regional Kepri..tentu listrik akan teratasi tapi kapan…hanya waktu yang bisa menjawab..
        kemudian menjadi Tugas Pemerintah untuk mensejahterakan rakyat, nah melalui Fungsi Pemberdayaan Masyarakat yang tepat sasaran, semisal untuk penambak udang, yang tinggal di kelong itu..diberikan Modal untuk Meningkatkan usahanya, dan memberikan laluan supaya komoditi mereka dijual dengan harga yang layak, serta tentu juga memberikan pemahaman, pembelajaran terhadap kemanfaatan teknologi, ..sehingga mereka tidak buta terhadap teknologi..satu lagi yang paling penting, adalah Mindset mereka harus berubah, dari yang betah dengan kemiskinan kemalasan, , tak mau maju karena ketidaksejahteraan mereka yang mereka jadikan alasan..padahal hal tersebut bukan solusi bagi mereka, harus mereka yang mau merubah mental dan mindset mereka sendiri..nah disini domain pemko bermain..karena Pemko mesti bisa merubah mindset mereka menjadi orang yang memiliki mindset yang kuat untuk maju dan melakukan perubahan…sehingga apapun bantuan yang diberikan Pemko nantinya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan mereka, dapat berguna dengan semestinya…contohlah BLT..kemana abisnya duit tu..tentu jarang yang menjadikannya sebagai modal usaha. Dan Juga tentu mereka para Masyarakat yang belum sejahtera itu tentu harus memahami ayat tentang”allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubah nasibnya sendiri”….jadi affirmative action yang mesti dilakukan adalah Sinergi antara Pembangunan Mindset masyarakat, Pengembangan layanan berteknologi, dan Infrastruktur.

  6. Dwi Mart Diantono mengatakan:

    saya sangat setuju jika kota Tanjungpinang memiliki akses internet gratis seperti adanya Hotspot yang diletakkan di lokasi yang ideal,,dan saya sangat menyayangkan kantor walikota tidak memiliki layanan internet,,,mudah2an kedepan Kota Tanjungpinang menjadi Kota IT,,jangan kalah sama Kota Batam,,hidup Tanjungpinang,,

    • Dipa mengatakan:

      untuk Kantor walikota..mulai hari senin kemarin sudah ada Hotspot..
      untuk lebih lanjut coba tanya sama staffnya..

  7. ade iskandar mengatakan:

    kadang kita hanya melihat kulitnya saja dari setiap permasalahan, waktu masih mahasiswa gitu juga, sangat idealis, (ini saya lo mas dipa) eh begitu udah berada didalam sistem,,,,wah…geto toh….mudah2an untuk menjawab semua ini saya doain mas dipa bisa bergabung di jajaran kita…setelah lulus kulnya ntar…….Amiiinnn…:)…soalnya jelasin panjang lebar disini sulit juga..sebatas teori semua,,,ntar kalo udah selesai en masuk ke dalam sistem…baru tau..en baru bisa milih..mau jadi agent of change atau….oppurtunis2 sejati….semua mah ditangan kita masing2,.,,,so yang paling penting…Keep Istiqomah bro…cause kadang kita tidak sebaik yang kita kira……..

  8. adamsign mengatakan:

    saya juga setuju apa yang dikatakan bang Ade, tapi tidak ada salahnya kita tetap memiliki idealisme, nantinya juga idealisme kita itu berbaur dengan lingkungan sekitar (pemikiran masyarakat dan sistem). karena walau bagaimanapun kita makhluk sosial. manusia tidak bisa hanya bergerak dengan praktek tanpa teori maupun teori tanpa praktek adalah sia-sia saja. mungkin untuk orang-orang yang berada di sistem bawah teori-teori seperti mas dipa ungkapkan jarang di pakai, karena mereka hanya sebagai perpanjangan tangan dari si pemikir di lini atas. tapi untuk orang-orang yang berada di lini atas segala teori dan philosophy itu sangat penting. apalagi untuk para pengusaha-pengusaha yang tidak tergantung oleh uang kerajaan dan pelat merah yang mencari berbagai ide, membaca konsumen, dan lain sebagainya. Teori-teori dan filosopi itu tetap harus digunakan. saya juga punya pengalaman tentang hal ini.

    jangan pesimis donk, jika ada yang ingin merubah semua menjadi lebih baik kenapa harus di tentang dan perbedaan itu sebenarnya indah..peace for bloggers

  9. Dipa mengatakan:

    @ Bang Ade:
    Saya melihat semua itu bukan dari kulitnya aja..saya memiliki banyak teman2 yang bergerak dalam Sistem..jadi saya tau bagaimana sistem itu baik di pemko maupun pemprov..karena sering berdiskusi dan bertukar pikiran dengan mereka2 yang ada di dalam sistem..dan Jika hal2 diatas dikatakan sebatas teori sebenarnya tidak seperti itu…hal2 yang saya tulis diatas itu adalah bagaimana antisipasi dan solusi terhadap hal2 yang terjadi di dalam sistem itu..seperti E-Gov..IT dll..itu sebenarnya adalah best practice dari daerah lain2..bagaimana mereka bisa merubah sistem yang ada dengan ICT jadi bukan hanya sekedar teori tanpa praktek….yang membuat sistem itu sendiri kan manusia itu sendiri..dalam hal ini yang berwenang adalah Pembuat Kebijakan di Lini Atas…Gubernur atau Sekda..ataupun kepala dinas… makanya kalau saya hendak bergabung ke dalam sistem..saya lebih memilih menjadi Penentu Kebijakan Tingkat atas ..bukan pegawai di lini Bawah….dan saya lebih memilih memegang jabatan Publik seperti Kepala Daerah (Walikota atau Gubernur)..karena dari situ kita memiliki kekuasaan untuk merubah sistem itu menjadi lebih baik dan ,menentukan akan dibawa kemana daerah ini …….karena perubahan dalam Birokrasi itu susah kalau tidak dimulai dari atas..dari level Pimpinan yang mengemudikan bagaimana kapal itu akan dibawa…nah setelah saya lulus Insya Allah saya memilih untuk berada di luar sistem dulu dengan membangun usaha sendiri dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain…dan menjadi mitra pemerintah…..baru nanti saatnya tiba saya akan masuk ke dalam sistem seperti yang saya katakan sebelumnya..dan kalau kita tidak sebaik apa yang kita kira ? berarti kita memang masih belajar..untuk lebih baik…

  10. tanjungpinang mengatakan:

    halo salam kenal…
    websitenya keren dan sangat informatif…
    sangat bermanfaat bagi yang ingin menjalin kesatuan pengembangan IT di tanjungpinang
    suksesya

  11. ade iskandar mengatakan:

    @adamsign wrote : jangan pesimis donk, jika ada yang ingin merubah semua menjadi lebih baik kenapa harus di tentang dan perbedaan itu sebenarnya indah..peace for bloggers
    — bener mas adam…untuk kebaikan harus kita dukung sekali…tidak ada yang menentang itu kecuali pembela keburukan itu sendiri..kalo pesimis…ini agak bingung arahnya kemana..he..he..insyaAllah tidak ada yg pesimis…tulisan ini juga yg diberi mas dipa bisa menjadi masukan buat kita yang membaca..en kadang kita emang sering merasa orang yg tidak sependapat dengan kita selalu salah…kalo kita belum berada dalam gerakan perubahan itu mungkin masih sangat berapi-api mas..tapi tatkala sudah bergelut dalam pergerakan ini baru kita sadar arti pesimis itu apa..insyaAllah yg disampaikan bukan lah rasa pesimis diri mas..tapi sedikit kritikan buat kader2 perubah (baca:agen2 kebaikan) didalam pemerintahan yg semakin keropos, yg niat awalnya ingin mewarnai,,eh malah sekrang malah terwarnai secara keseluruhan…tinggal dalemannya aja yg belon..termasuk kami yg nulis kali yah….!?

    @dipa : buat mas dipa, salut utk mas, masih ingat hadist bahwa orang2 yang beriman, seide, sejiwa, itukan waktu diciptakan layaknya pasukan berbaris ya mas…(maaf redaksionalnya yg pas lupa)…insyaAllah kalo sama kita akan berjumpa dalam pasukan itu juga didunia, so sekali lagi ini masukan buat agen2 yg saat ini sudah didalam sistem mas, buat mas yg masih kuliah juga…utk menjadi penentu kebijakan emang syarat mutlak yg harus dimiliki agar sistem ini berubah..insyaAllah kami doakan mas dipa menggapain cita-citanya, tapi sebagai contoh, contoh nyata …yakinlah sebelum memegang itu pun ada yg sudah merubahnya walaupun levelnya hanya seorang staff biasa…dan ini diikuti sampe level2 tertingginya,hanya bedanya ada yg saklek ikut ada juga yang masih malu2 en sembunyi2…so terus kumpulkan orang2 baik dan istiqomah terus kita bersatu untk membenahi semua ini, karena kebaikan yang tercerai-berai, pasti dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir..en utk belajar menjadi lebih baik emang wajib terus kita lakukan… namun mudah2an kebaikan dan keteguhan yang berlandaskan quran dan sunnah, tidak pragmatis terhadap kekuasaan dan merasa kelompok atau diri kita yang terbenar, karena kekuasaan itu harus diambil, dibenahi dan dilaksanakan sesuai nilai-nilai islam, berdasarkan kemuliaan Islam,
    nah kata2 kadang kita tidak sebaik yg kita kira adalah refleksi dari sikap yang terus tabayyun terhadap diri sendiri…ini adalah kata2 pemicu buat kami yang baru sebentar didalam sistem..sekali lagi kata2 ini buat kami sendiri..asif kalo salah pengertian…karena emang kami merasa kami tidak sebaik yg kami kira…

    dari saya udah dulu deh…asif kalo ada silap kata….subhakallahumma wa bihamdika asyahadualla ilaa ha illa anta astagfiruka wa a’atubu ilaihi….wassalam

  12. Maulana Ainun R mengatakan:

    Assalamu’alaikum
    Salam kenal Saudara Dipa
    Salut sekali untuk saudara dipa untuk memajukan salah satu daerah dari sekian daerah di indonesia dan semoga menjadi pilot projec percontohan dari untuk daerah2 lain. akan tetapi gagasan anda perlu anda sinergiskan dengan disiplin ilmu yang lain, Andai kata ada 5 orang spt anda di tanjung pinang maka daerah anda ( tanjung pinang ) tidak kalah hebatnya dengan singapura dan malaysia…………….Maju terus sauodaraku dipa insya allah stiap langkamu akan selalu bermanfaat bagi saudara2 kita yang lain ….amin

  13. Abdul Rasyid mengatakan:

    Assalamu’alaikum
    Saat ini, sebahagian orang menganggap bahwa pemanfaatan informasi teknologi (IT) adalah cukup dengan mempu menguasai komputer (Words, Excel ) maupun dengan membuat website, fashbook atau sejenisnya. Padahal, IT adalah sesuatu yang luas yang dapat dipergunakan dalam berbagai hal dalam rangka mendukung pembangunan. Bukan hanya sekedar gengsi maupun tidak ketinggalan zaman.
    Dari pengalaman selama saya di Jawa yaitu di Tegal sebagai tim ahli penataan data pelanggan dan jaringan PLN APJ Tegal dan tim ahli persiapan pengelolaan air bersih untuk kota Bontang yang semuanya berkaitan dengan IT, sesungguhnya banyak yang dapat dilakukan di negeri ini, Kepri. Namun sayangnya, peluang untuk pengembangan IT dalam mendukung pembangunan dan pelayanan publik tidak mendapat perhatian yang serius. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu saya melakukan pilot project Sistem Informasi Manajemen Kependudukan (SIMDUK) untuk Kelurahan air Raja kecamatan Tanjungpinang Timur. Saat itu, saya hanya bertujuan untuk membantu pembuatan data base di tingkat kelurahan yang selama ini sangat memprihatinkan tanpa mengganggu sistem SIAK (Sistem informasi administrasi kependudukan). Karena dari sistem yang saya buat secara sederhana, pihak kelurahan dapat memiliki data secara akurat dan cepat jika diperlukan. Namun sebelum project tersebut selesai saya kerjakan, pihak Disduk mengatakan bahwa pihak manapun tidak dibenarkan lagi untuk melakukan / membuat sistem kependudukan karena itu sudah menjadi hak monopoli menteri kependudukan. Sehingga terpaksa saya hentikan.
    dari pengalaman tersebut, ternyata pemerintah pusat dan daerah tidak pernah mau memberikan peluang kepada siapapun meskipun untuk tujuan kebaikan dan kemajuan.Jadi rasanya sebagai putra daerah yang memiliki sedikit kemampuan dan ingin menyumbang kemampuan tersebut untuk daerah, sepertinya tidak pernah mendapat peluang.

    • Dipa mengatakan:

      saya rasa memang ego sektoral masih berperan..padahal walaupun memiliki sistem yang berbeda sedangkan database tentu bisa melakukan interoperablitas sebagai Support system untuk level kelurahan dan tentu tidak menggangu sistem utama. beberapa orang yang sering mendapat “kenyamanan” akan tergeser atau tergusur kenyamanannya berkat penggunaan ICT secara integrated. memang yang mesti dihadapi adalah mental terhadap teknologi..karena menyangkut perubahan budaya.

      • tidak_ada mengatakan:

        Bukan hny itu, perlu ditegaskan lagi saya perwakilan..mungkin kamu merasa mengenal ICT dipa, tp ingat IT tidak kecil ruang lingkupnya..apa yg kmu paparkan mrupakan gambaran umum yang belum perlu ada di tanjugpinang saat ini, masih byk langkah kongkren yang lebih diutamakan daripada IT krisis listrik air utamakan itu dahulu. Tanjungpinang kecil peluang juga kecil banyak putra daerah pada tidak mau balik kesana karena kami merasa lebih dihargai ketiba di TPI, sedangkan yg digunakan pemerintah pinang saat ini kemampuan yang belum berkompeten *bukan mengecilkan* bagaimana perkembangan disana bisa, selanjutnya pemerintah pinang salah mengartikan apa arti otonomi daerah, kenapa putra daerah melayu yang diutama sedangkan meraka yang bukan melayu akan tergeser oleh roda SARA. ini sudah saya lihat…jadi wajar ….saya menuliskan disini…coba kamu perhatikan apakah ada suku lain yang duduk dikursi tertinggi pemerintah kepulauan riau semunya berdarah melayu, sedangkan daerah2 lain di indonesia mereka bukan putra daerah diutama melainkan yang memiliki kemampuan sangat baik, sehingga daerah tersebut bisa berkembang…bukan monopoli kurs. Mungkin kamu bisa mengerti….dan lebih mengutamakan yang utama dahulu bukan gengsi teknologi….
        karena teknologi orang yang memiliki modal mreka harus punya komputer, laptop, dll……sedangkan rakyat disana masih dibwa garis kemiskinan…gimana???????

        cukup sekian saya yg SMA ditanjungpinang…dan (percaya tidak percaya )saat ini saya di Jerman Bekerja di stasiun Satelit yang pernah kemampuan saya tidak diakui karena Putra Daerah tersebut krn saya lahir dpinang dan kalah karena saya bukan darah melayu. Orang Tua saya disana dan mereka banyak cerita akan itu dan sekelilingnya…jadi dari saya ambillah kesimpulan baik….bukan pamer…tapi ini suara-suara yg perlu didengar….jika saya salah…..SAYA MINTA MAAF……

        sprich besser als schweigen.

  14. yudha mengatakan:

    saya dukung ide/gagasan langkah kedepan lebih baik. bila ada kendala dan hambatan untuk merealisasikannya, kita bisa diskusi & bicarakan via mail dgn saya. thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s