2008M or 1429H, The Year of Rahmatan Lil aalamiin

Posted: Juni 16, 2008 in Ekonomi Syariah

Oleh M. Gunawan Yasni
03 Juni 2008

Di antara adanya beberapa bencana alam semacam banjir besar di dataran rendah, longsor di dataran tinggi, tsunami di daerah pantai, muntahan lahar di pegunungan, kapal laut tenggelam, pesawat udara meledak, kereta dan mobil angkutan bertabrakan, gempa dan kerusakan di mana-mana, yang telah terjadi di tahun-tahun sebelumnya, ada yang sedikit menggembirakan di tahun 2008. Tanggal 9 April 2008 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menyetujui dalam rapat plenonya pengesahan Undang-Undang no. 19 tentang Surat Berharga Syariah Negara (UU SBSN) atau lebih populer dengan UU Sukuk Negara. Tanggal 7 Mei 2008 Presiden RI telah menandatangani dan mengesahkan UU ini dan diumumkan dalam lembaran negara. Maka ke depan, tahun-tahun Rahmatan Lil ‘Aalamiin insya Allah dimulai di Indonesia.

Al Qur’an telah jelas menerangkan kepada umat manusia, bagaimana manusia memanfaatkan potensi alam dan dirinya yang sebenarnya adalah kepunyaan Allah Robbul ‘Aalamiin (Tuhan Semesta Alam) – bukan hanya Robbul Muslimiin (Tuhan kaum muslimin). Bahkan Allah SWT menyuruh kita, agar memanfaatkannya sesuai dengan perintahNya dalam mencapai nilai-nilai ketaqwaan yang sempurna. Simak makna yang terkandung didalam Al Qur’an surah An Nisa (4) ayat 131 dan 132.

131. Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh kami Telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. tetapi jika kamu kafir Maka (ketahuilah), Sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah[360] dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.

132. Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

[360] Maksudnya: kekafiran kamu itu tidak akan mendatangkan kemudharatan sedikitpun kepada Allah, Karena Allah tidak berkehendak kepadamu.

Sukuk Negara, prinsip penerbitan dan penggunaan dananya distruktur sedemikian rupa sehingga sejalan dengan prinsip-prinsip syariah yang terkandung dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang juga telah Allah SWT sampaikan dalam Kitab-Kitab Suci sebelum Al Qur’an. Yang paling utama dalam sukuk negara adalah transparansi kemanfaatan yang diupayakan. Selama ini penerbitan surat-surat berharga konvensional distruktur sedemikian rupa sangat fleksibel penggunaan dananya, sehingga seringkali mengorbankan ketransparansiannya. Dengan kata lain transparansi yang sangat diagung-agungkan dalam prinsip Good Corporate Governance (GCG) konvensional selama ini sesungguhnya lebih bisa dicapai jika negara lebih banyak mengeluarkan Sukuk Negara dibanding Surat Utang Negara yang konvensional. Sukuk Negara bukan lagi menganut GCG biasa tapi ‘God’ Corporate Governance (GCG) yang luar biasa. Sesungguhnya proses switching dari konvensional ke syariah telah banyak memperlihatkan tanda-tanda. Yang paling mutakhir adalah lebih diminatinya obligasi syariah sebuah korporasi oleh pasar modal dibandingkan obligasi konvensionalnya, sehingga obligasi syariah diterbitkan lebih banyak dibandingkan konvensionalnya. Hal ini terus menggejala kepada korporasi-korporasi berikutnya yang ingin menerbitkan obligasi.

Dan secara perlahan tapi pasti, telah terjadi proses perpindahan aktivitas ekonomi dan keuangan dari yang haram dan syubhat menuju ke sesuatu yang lebih sesuai dengan syariah sejalan dengan Al Baqarah (2) ayat 276.

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”

Kepemimpinan hakikatnya adalah sebuah kegiatan yang mendorong peningkatan kemanfaatan alam, dirinya sendiri dan orang lain untuk kesejahteraan umat. Untuk itu semua, dari pemimpin dibutuhkan transparansi kemanfaatan yang dia upayakan dan Sukuk Negara adalah salah satunya yang sangat perlu dikembangkan oleh pemimpin negeri ini.

Rasulullah Muhammad SAW adalah contoh terbaik kepemimpinan dengan transparansi kemanfaatan bagi umat Islam. Dalam setiap ghanimah (pampasan perang) yang diperoleh, bagian yang besar adalah untuk Allah SWT dan RasulNya. Bagian inilah yang dalam kepemimpinan Rasulullah dipergunakan sejelas dan sesegera mungkin untuk kemanfaatan kaum dhuafa serta kejayaan umat Islam. Sementara Rasulullah SAW masih harus bekerja keras sebagaimana layaknya orang-orang biasa dan mengkonsumsi secukupnya bagian rizki yang diperoleh sebagaimana layaknya orang-orang biasa. Sikap dasar filosofi dan metode pendekatan kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW adalah: mendorong, membangkitkan minat, membangun, menegor dan mengembangkan dengan segala transparansi atas kemanfaatan atas apa yang Rasulullah SAW upayakan. Tentu saja manfaat kepemimpinan Rasulullah SAW tidak hanya untuk umat Islam tapi juga untuk semesta alam sebagaimana yang Allah SWT katakan kepada Rasulullah SAW dalam surah Al Anbiyaa’ (21) ayat 107:

“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Implikasinya dalam penerbitan Sukuk Negara adalah bahwa penerbitannya lebih condong membawa manfaat buat masyarakat banyak bukan segelintir kelompok saja apalagi kelompok asing yang sekedar mendompleng. Untuk itu pantas jika pemerintah lebih dulu menerbitkan dan menawarkannya dalam denominasi rupiah untuk masyarakat di dalam negeri. Lebih detil lagi jika ingin menjangkau masyarakat banyak, maka Sukuk Negara dikeluarkan dengan nama ‘SRI’ atau Sukuk Retail Indonesia (Sukuk Negara pecahan kecil) dan lebih diutamakan keberadaannya dibandingkan Sukuk Negara pecahan besar.

Transparansi kemanfaatan dalam sebuah kepemimpinan berdasarkan contoh dari Rasulullah SAW menghasilkan kecintaan dan pembelaan yang tulus dari umat Islam dan umat-umat lain yang merasakan kemanfaatannya. Bandingkan dengan kebanyakan pemimpin dunia di zaman sekarang. Kepemimpinan identik dengan penguasaan asset-asset ekonomi pada segelintir pemimpin atau golongan yang mendukung si pemimpin memperoleh kekuasaannya. Kesyariahan dalam penguasaan dan pemanfaatan asset-asset ekonomi tersebut tercerabut sudah. Sebagai dampaknya, peperangan dan kekacauan sosial merebak di belahan-belahan dunia manapun. Para pemimpin dihujat dan diganti hanya untuk dihujat dan diganti lagi. Buat orang-orang yang tidak mencari-cari amanah untuk menjadi pemimpin, kepemimpinan dengan transparansi kemanfaatan menjadi tujuan; dan ini menjadi sesuatu yang menyerupai jalan yang terjal mendaki. Tapi orang-orang yang tidak mencari-cari amanah sangatlah sedikit. Pemimpin seharusnya adalah orang-orang terbaik yang ada di tengah-tengah umat, dan orang-orang yang baik adalah orang-orang yang memberikan manfaat besar kepada sesama, dan bukan orang-orang yang mengambil sebesar-besarnya manfaat dari sesama bahkan mengeksploitasi apa yang ada disekitarnya untuk kepentingan dirinya sendiri dengan kebohongan atau pembalikan fakta sekalipun.

Sungguh kita membutuhkan pemimpin yang bisa menyatukan umat Islam di manapun, menjadi pemimpin yang mampu menjadi perintis, penyelaras, pemberdaya dan tentu saja menjadi panutan. Atau dengan kata-kata yang lain menjadi pemimpin yang mampu menjadi pembuka bagi orang lain dan alam sekitarnya dalam memperoleh penyelarasan dan pemberdayaan dalam hidup. Kita membutuhkan pemimpin yang berani salah satunya mensosialisasikan Sukuk Negara kepada rakyatnya dan dunia, dengan harapan Allah akan meridlai kembali negaranya di tengah-tengah umat Islam dan umat-umat lainnya menjadi Rahmatan Lil ‘Aalamiin.

There were times …
When there was the dream opener …
When there was the light opener …
When I was burdened by all of my physical pains.
There were times …
When I felt sad …
When I felt bad …
When I was burdened by all of the others’ lies.
There are times …
When I have to give lessons …
When I have to forgive persons …
When I am burdened by all of my senses.
There are times …
When God send a real opener …
To give His true power …
When I am overwhelmed by all of my true senses.
Oh God … I wish I can be the lucid one …
Oh God … I wish I can be the chosen one …
To cherish Your gifts …
To cherish Your mights.
Oh God … I wish to be wiser …
For I am as your believer.
I witness … there is no God but Allah …
And Muhammad is the Messenger of God.

Keterangan penulis:
M. Gunawan Yasni adalah Anggota Dewan Syariah MUI. Tulisan-tulisan M. Gunawan Yasni dapat dibaca di Blog Network Niriah: mgyasni.niriah.com

Sumber :www.niriah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s