Harapan Syuting di Perpustakaan Alexandria

Posted: Mei 26, 2008 in Ketika Cinta Bertasbih

Seharusnya Perpustakaan Alexandria tidak termasuk dalam jadwal hunting syuting film Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Namun, keindahannya membuat tim KCB tertarik untuk menyertakannya.

Begitu melihat perpustakaan yang disebut Bibliotheca Alexandrina itu dari dekat, sutradara Chaerul Umam,penulis skenario Imam Tantowi, dan Habiburahman El-Shirazy alias Kang Abik ber-angan-angan untuk bisa memvisualisasikan adegan pekan budaya Indonesia tepat berada di bagian depan perpustakaan yarig diresmikan pada Oktober 2002 itu.

“Nanti kami buat panggung kecil menghadap ke arah utara (laut). Lalu, kami gelar acara nasyid atau tari saman, tak perlu lagi mencari figuran karena pasti banyak orang Mesir yang akan menonton,” canda Kang Abik.

Eksterior gedung yang memuat sekitar 8 juta buku ini tak hanya cathcy, tapi juga sophisticated. Bangunan inti-nya terlihat seperti silinder beratap miring yang terbenam di tanah.

Dinding yang miring mengarah ke utara. Sementara bagian selatan dinding berhias potongan batu granit yang dipahat simbol-simbol huruf dari seluruh dunia. Ada kolam air di bawahnya untuk menetralkan suhu.

Restorasi perpustakaan ini dilakukan pada tahun 1990-an atas prakarsa UNESCO. Desain yang merupakan perpaduan antara modern dan klasik dirancang oleh biro arsitektur Norwegia, Snohetta, dengan menelan biaya USD220juta.

Sebelum memasuki bagian dalam gedung, pemeriksaan di pintu masuk jauh lebih ketat dari Cairo International Airport. Dengan lantai beralas kayu, kebersihan gedung yang dipandang sebagai salah satu karya arsitektur paling penting dalam beberapa dekade terakhir ini benar-benar dijaga.

Fasilitasnya, selain tersedia 500 unit komputer untuk memudahkan pengunjung mencari katalog buku dan berselancar internet gratis, ruang bacanya sanggup menampung 1.700 orang. Ada pula coffee shop maupun book shop yang menjual buku dengan harga lumayan murah.

Selain tempat favorit bagi para mahasiswa untuk mencari referensi buku, perpustakaan ini pun menjadi objek wisata yang ramai dikunjungi turis. Tiket masuk untuk mahasiswa Mesir sekitar 2 pound (Rp3.400). Mahasiswa asing 10 pound (Rpl7.000), dan turis 20 pound (Rp34.000).

Pameran lukisan kaligraf kontemporer karya seniman Mesir Kamel Ibrahim, huruf litografi Moustafa el-Razzaz, hingga mesin cetak kuno disajikan sebagai daya tarik bagi para turis. Buktinya, memang banyak sekali agen perjalanan yang menyertakan paket wisata mengunjungi Perpustakaan Alexandria.

“Kalau ke Alexandria, yang harus dikunjungi memang perpustakaannya dulu, baru objek wisata yang lain. Kalau belum ke sini belum afdol,” ujar Kang Abik. Namun, tentu saja izin untuk bisa melakukan syuting di sini tidaklah mudah.

Semua berpulang kepada event organizer yang bekerja sama dengan SinemArt untuk memfasilitasi tim produksi KCB melakukan syuting di Mesir. “Kami harus selalu optimistis. Kalau izin untuk syuting di sini (Perpustakaan Alexandria) bakal keluar, adegannya akan memberikan dampak signifikan bagi keseluruhan film,” ujar Project Officer KCB Dani Sapawie.

(SEPUTAR INDONESIA, 23 April 2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s