M Cholidi, Andi Arsyl, dan Oki Setiana Dewi : Terima Banyak Lamaran

Desember 12, 2008

Bagaimana penampilan M Cholidi, Andi Arsyil, dan Oki Setiana, 3 debutan film nasional yang ditemukan lewat audisi KCB? Bisakah mereka mengikuti irama dan mengimbangi 3 bintang senior yang didatangkan langsung dari Jakarta, Slamet Rahardjo, Didi Petet, dan El Manik – minus Deddy Mizwar – yang berperan sebagai Kiai Lutfi, bapak Anna yang diperankan Oki? Didi Petet yang berperan sebagai sopir Eliana (Alice Norin) tak melihat jam terbang sebagai kendala. “Tak ada masalah berkolaborasi dengan mereka, aktor yang baik adalah memudahkan lawan mainnya. Saya kira untuk debutan mereka sudah berbuat maksimal,” ucap Didi, yang sempat beradu dialog dengan Azzam yang diperankan Cholidi. El Manik juga mengatakan hal yang sama. Dalam dunia sinema, cap aktor baru dan lama itu tak ada. “Maka nya, saya juga tak berani memberikan nasihat ini atau itu. Saya tak bisa melampaui kewenangan sutradara. Itu tugas sutradara. Lain ceritanya kalau mereka bertanya pada saya, pasti akan saya jawab semampu saya,” kata El Manik.

Pemandangan menarik terjadi ketika Didi, El Manik, dan Slamet bertemu di Taman Muntazah. Suasana syuting yang panas oleh suhu pantai jadi semakin hangat oleh joke mereka. “Kami bertiga punya kelebihan sendiri-sendiri. Untuk urusan penting-penting, seperti misalnya untuk lolos dari imigrasi di bandara saya ahlinya. Untuk berbagai bahasa, Manik urusannya, untuk usil, Didi orang-nya,” sebut Slamet. Melihat keakraban ketiga aktor watak ini, Cholidi dan Oki tak bisa menahan diri untuk ikut foto bersama. “Kapan lagi kalau tidak sekarang. Ini kesempatan langka bertemu dengan para legenda,” ujar Cholidi. “Saya sangat mengagumi mereka. Senang rasanya bisa satu film meski tidak satu scene,” tambah Oki.

Bersentuhan dengan aktor-aktor senior bukan saja tantangan yang harus dihadapi ketiga para pemain utama itu, plus Alice. Tantangan cuaca yang jauh dengan Indonesia plus bahasa juga jadi soal. Beruntunglah, Sinemart sudah menyiapkan ahli-ahli bahasa dari Al Azhar, salah satunya Saiful Bahri, untuk mematangkan bahasa mereka. Cholidi, Andi, dan Oki cukup fasih berbahasa Arab. “Selain soal bahasa, saya juga harus belajar soal intonasi dan body language orang Mesir itu seperti apa. Ngomong la (tidak) itu dengan mulut dan tangan seperti apa, ngomong sambil memuji dengan cara yang lain,” ucap Andi, yang terbilang sangat berani mencoba berlatih dengan sopir taksi atau siapa pun yang ditemuinya baik selama di Kairo maupun Alexandria. Pernah suatu malam – lantaran ingin cari makan – Andi menyetop taksi dan lalu menawarnya dalam bahasa Arab. Lewat perjuangan yang cukup alot, Andi dan beberapa teman bisa sampai di tujuan. Andi juga sering mempraktekkan bahasa Arab terhadap gadis-gadis Mesir yang tak seterbuka gadis Indonesia. Dan hasilnya, beberapa kali dia dapat surat cinta, bahkan ajakan untuk menikah. “Saya sampai pusing dibuatnya.”

Soal lamar-melamar juga sering diterima Oki. Saking sering-nya ke Khan Kalili, pasar yang menyediakan berbagai kerajinan khas Mesir, ada seorang pedagang menyapa salah seorang wartawan: “Anda beruntung sekali punya istri wanita itu.” Wartawan itu menjawab, “Saya bukan suaminya, saya saudaranya.” Kontan saja, tangan wartawan itu ditarik dan lalu ia diminta untuk menyampaikan pesan. “Maukah saudaramu menikah dengan saya. Kalau mau, saya lamar sekarang juga,” rajuk sang pedagang.

Ketertarikan para pria Mesir terhadap Oki bisa dimaklumi, mengingat betapa mahalnya biaya pernikahan — khususnya untuk calon mempelai pria. Di Mesir, seorang pria yang akan menikahi gadis pujaannya mesti menyiapkan segala sesuatu yang bersifat pribadi, mobil, flat beserta isinya. Berat buat para bujangan yang bergaji pas-pasan. Tapi Oki maupun Andi sama sekali tak tertarik dengan gadis maupun perjaka Mesir. “Saya lebih suka pria lokal (Indonesia),” jawab Oki dengan senyum ramah. Sementara Andi bilang, kecantikan wanita Indonesia itu lebih abadi dibanding wanita Mesir. “Lihatlah bentuk badan mereka setelah menikah,” ujar Andi.

Di mata Chaerul Umam, performa ketiga bintang utama plus Alice Norin cukup membanggakan. “Mereka sudah bermain maksimal sesuai jam terbang yang dimiliki,” ko-
mentar Chaerul Umam, yang pernah membesut Deddy Mizwar
lewat Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Al Kautsar, dll. Oh ya, selain penampilan ketiga bintang muda, syuting KCB diramaikan kehadiran Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang berperan sebagai dirinya sendiri.
Kehadiran Din di film ini cukup menarik lantaran dia mesti berakting, serta di-makeup layaknya bintang-bintang lainnya. “Setelah ini kalau ada yang menawari, mesti saya lihat honornya dulu,” ucapnya sambil tertawa. Din puas dan tak sabar untuk melihat hasilnya.
“Ini megafilm pertama yang bisa syuting di sini. Mudah-mudahan warga Muhammadiyah menontonnya,” tambah Din, tetap dengan bercanda.

MAHASISWA-MAHASISWA Al AZHAR : Tanpa Mereka, Syuting Akan Pincang

Ini dia sekumpulan anak-anak muda yang masih tercatat sebagai mahasiswa Al Azhar dari berbagai disiplin ilmu. Mereka sudah menuntut ilmu di universitas tertua di Mesir itu bertahun-tahun. Ada yang 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun bahkan 6 tahun. Bahkan sudah ada yang mendirikan usaha seperti, Arafi yang mendirikan Rafii Travel Groups, sebuah biro perjalanan, yang diajak bermitra oleh Sinemart selama syuting di Mesir.

Arafi dan beberapa temannya masuk sebagai kru KCB dari Mesir. Sedangkan teman-temannya yang lainnya bertindak sebagai panitia. Tugas mereka menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan jalannya proses produksi. Menyiapkan hotel, penginapan, transportasi sampai hal-hal kecil yang berhubungan dengan kostum dan yang paling vital adalah sekaligus jadi penerjemah di lapangan, bahkan sopir, guide, plus juru tawar. Mereka cukup militan dan tentu saja tulus dan menyenangkan. Latar belakang pendidikan agama membuat para mahasiswa itu cukup matang dalam bersosialisasi. “Saya enggak menyangka sama sekali dipercaya Sinemart untuk ikut proyek ini,” ujar Arafi. Lantaran dia dan beberapa temannya masuk kru KCB, komando panitia diberikan pada Aji, pria berkaca mata yang cukup cekatan mengoordinasikan semua kepentingan. “Enaknya, saya dapat banyak pengalaman yang sangat berharga dan bekerja dengan orang-orang profesional di bidangnya,” aku pemilik nama Muhamad Aji Abdul Aziz. Sebaliknya, dia merasa dalam memberikan servis masih banyak kekurangan di sana-sini. “Saya minta maaf untuk itu,” kata Aji dengan tulus.

Yang pasti banyak cerita yang muncul dari proses produksi selama 35 hari. Persinggungan pun tak terelakkan. Bahkan ketika diadakan acara perpisahan, ketahuan di antara mereka banyak yang mengeluh kecapekan bahkan ada yang hendak mengundurkan diri. Tapi semua pada akhirnya berakhir manis. Dan air mata tumpah di Bandara Internasional Kairo. Betapa tidak, selama 35 hari mereka selalu bersama. Sebuah perpisahan mengharukan dari perjalanan panjang pembuatan sebuah film yang berbujet -kalau tidak salah- mungkin yang terbesar, setidaknya hingga saat ini.

(BINTANG INDONESIA, Edisi 918, II Desember 2008)

Entry Filed under: Ketika Cinta Bertasbih. .

7 Comments Add your own

  • 1. firda amelia  |  Desember 14, 2008 at 10:03 pm

    sukses seLaLu bwt smw pemeren dan crew KCB..
    d tunggu fiLm nya…
    bwt oki, keep hamsah dan seLaLu istiQomah yah ukh!!!

    Balas
  • 2. Jhonny Prambudi  |  Januari 12, 2009 at 4:04 pm

    Assalamualaikum…
    Hamaasa buat Sahabat Pemain Skaligus Crew KCB 1 y…

    Buat Okky, Keep your spirit y ukhti…
    Sabar dalam mnghadapi dunia entertaint…Oh y, ditunggu Novel pertamanya rilis y…

    Buat Mas.Cholidi and Arsyil sukses ya film pertama nya…

    Buat K’Meyda Moga berhasil…

    Buat Rahmi…Jgn Suka nakal ama k’meyda…

    Buat Mas.Furqon…Ditunggu Novelnya…

    Mas.Adrian Sukses buat kedua kuliahnya…

    Oh y, KCB 2 semoga sukses juga y…

    Balas
  • 3. Yunita  |  Juni 13, 2009 at 3:21 pm

    okiiiiii……
    dia sukses banget ya skarang….

    oki dulu nya temen aku di SMP Negeri 3 Batam,
    waktu kelas satu kami duduk bareng…..

    oki itu pinter banget…
    jenius,, baik,, gak pilih temen,, cantik,,

    waktu tau oki mau pindah ke jakarta, aku sempet nelfon oki n ngomong gini “Ki, kalo udah terkenal, jangan lupa ma temen2 diBatam ya, karena aku yakin, Jakarta udah pasti jadi gerbang kesuksesannya oki…

    Caiyo teman….

    I Miss U

    Balas
  • 4. ari  |  Juli 5, 2009 at 11:35 pm

    kok org2 hanya beri masukan positif ama oki aj???
    kasian yg lain tuh….
    okey,,,
    yg pasti buar semuanya moga sukses yach…. :)

    Balas
  • 5. vannesa  |  Juli 9, 2009 at 5:24 pm

    arsyl……kamu ganteng banget dwech!!!

    Balas
    • 6. vannesa  |  Juli 9, 2009 at 5:34 pm

      ya,, loVe UUUU

      Balas
  • 7. vannesa  |  Juli 9, 2009 at 5:25 pm

    mmmh!!! minta foto bareng kamu donk!!! arsyl… aku ngefans sama kamu deh!! acting kamu bagus juga!!! ganteng bangettttt

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Member Of


Tulisan Terakhir

Komentar Terakhir

fie di Biografi & Buku Tamu
Reva_Ryu di Photo-Photo…
Reva_Ryu di Trend Perfilman Indonesia meng…
Reva_Ryu di Perjalanan ke Tanjunguban
Reva_Ryu di Akhirnya..

Friends & Colleague

Link Umum

Kategori

Profil Facebook Adi Pranadipa

Arsip

Blog Stats